Topik

Abdullah Puteh Janji Perjuangkan Status Kepemilikan Aset Istana KarangĀ 

·
Abdullah Puteh Janji Perjuangkan Status Kepemilikan Aset Istana Karang 
Anggota DPD RI, Abdullah Puteh bersama Bupati Aceh Tamiang H.Mursil ketika melakukan pertemuan dengan keluarga Raja Karang. Foto : Hendra.

ACEH TAMIANG - Istana Karang, salah satu situs bersejarah di Kabupaten Muda Sedia (julukan Kabupaten Aceh Tamiang) akan dijadikan simbol peradaban kebudayaan dan sejarah. Bekas gedung kerajaan yang berdiri di jalan Medan-Banda Aceh, persisnya di Kampung Tanjung Karang Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang ini diproyeksikan menjadi museum ataupun sebagai ruang pustaka.

Namun ternyata bukan hal mudah mewujudkan keinginan ini di tengah tarik menarik siapa pemilik aset peninggalan Raja Tengku Muhamamd Arifin ini. Bila merujuk dari lokasi berdirinya, tidak dipungkiri istana ini memang bagian dari aset Pemkab Aceh Tamiang. Namun ada sekelumit sejarah yang kemudian membawa istana ini terdaftar sebagai bagian dari aset PT Pertamina.

Bupati Aceh Tamiang H Mursil, SH,M.Kn dalam pertemuan dengan keluarga Raja Karang mengatakan, istana karang menyimpan banyak peninggalan sejarah yang berguna bagi generasi penerus. Pemkab Aceh Tamiang terus berupaya agar Istana Karang menjadi aset pemkab sehingga tidak ada hambatan ketika membangun.

"Sejarahnya lumayan panjang. Orang yang tidak tahu persoalan hanya bisa menyalahkan saya, dibilang tidak bisa mengurus situs sejarah, saya dihujat terus tapi kalau saya paksakan bangun, saya akan melanggar aturan," ujar Bupati Mursil, Sabtu (28/12/2019).

Dalam pertemuan dengan keluarga Raja Karang, yang turut dihadiri anggota DPD RI, Bapak Ir. Abdullah Puteh, yang membahas tentang upaya menjadikan Istana Karang sebagai pusat sejarah dan budaya, menghasilkan kesepakatan untuk menagih kejelasan status istana itu agar bisa dikelola. "Kalau begini kan tidak terurus, rusak tidak dibenarin. Listrik pun sulit bayar," ujar Mursil.

Saat ini, di sekeliling bangunan istana, kondisinya memang tidak terawat. Selain dipenuhi semak, beberapa bagian gedung sudah rusak dan cat sudah pudar.

Bupati Mursil menegaskan dirinya cukup berkeinginan merawat dan melestarikan Istana Karang, namun terhambat regulasi. "Tanpa ibu bapak (ahli waris) ketahui, saya sudah tiga kali ke Pertamina bagian aset di Jakarta. Minta dikembalikan ke pemda. Kalau sudah sama kita, baru bisa kita poles," ujarnya.

Dalam kesempatan itu dia sedikit menceritakan "jatuhnya" Istana Karang ke PT Pertamina disebabkan blow out atau ledakan sumur KSB-54 milik Pertamina EP Field Rantau pada tahun 1997.

Menurutnya, seluruh rumah yang rusak akibat insiden itu mendapat ganti rugi oleh Pertamina melalui asuransi. "Istana ini termasuk salah satu yang rusak, makanya sejak itu dianggap bagian dari Pertamina," kata Mursil.

Tengku Haris, perwakilan ahli waris kerajaan mengapresiasi perjuangan Mursil dan sangat mendukung Istana Karang dijadikan pusat sejarah dan budaya Tamiang. Pihak ahli waris sendiri kata dia menyerahkan sepenuhnya kepada Pemkab Aceh Tamiang mengenai pengelolaan istana bila nanti sudah dioperasikan sebagai museum ataupun ruang pustaka. "Yang penting istana ini tetap ada, dan kami diakui menjadi bagian dari sejarah masyarakat Tamiang," kata Haris.

Sementara itu, anggota DPD RI Abdullah Puteh menilai Istana Karang sangat berpotensi menjadi daya tarik wisatawan bila dikelola dengan baik. 

Pujian serupa juga dilontarkan tim arsitek Ridwan Kamil ketika diminta Puteh menilai keberadaan istana tersebut. "Mereka heran kok peninggalan sejarah tidak dikelola, padahal ini heritage, sangat berpotensi menarik wisatawan," kata mantan Gubernur Aceh ini.

Setelah mendengar penjelasan Mursil terkait tarik-menarik kepemilikan aset istana ini, Abdullah Puteh pun mencoba ikut memperjuangkan pengembalian Istana Karang ke Pemkab Aceh Tamiang. "Sejarah Tamiang cukup panjang. Bukan cuma Istana Karang, termasuk dugaan ada pelabuhan Kerajaan Majapahit. Ini harus kita gali," kata dia. 

Abdullah Puteh yang menjabat Wakil Ketua Komite II DPD RI memang fokus membenahi perekonomian di daerah. Agar tak salah dalam "menjemput" anggaran ke pusat, dia mencoba melihat dan mendengarkan potensi yang bisa diusulkan ke masing-masing kementerian."Komite saya bermitra dengan sepuluh kementerian. Ini harus dioptimalkan, termasuk perawatan Istana Karang, ini ada biayanya," ujarnya. 

Lebih jauh dia mengatakan, Istana Karang nantinya tidak hanya menumbuhkan perekonomian masyarakat, tapi juga sebagai rujukan generasi muda menelusuri kehidupan masa lampau Bumi Muda Sedia. (Hen)

Disdukcapil Aceh Tamiang
Sponsored:
Loading...

Komentar

Loading...