Topik

Ahli BMKG Bantah Isu Konspirasi Terkait Tsunami Aceh 2004

·
Ahli BMKG Bantah Isu Konspirasi Terkait Tsunami Aceh 2004
Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, dr Daryono. Foto : Ist

JAKARTA - Isu soal tsunami di Aceh pada 2004 sebagai bagian dari konspirasi mencuat dan ramai diperbincangkan kembali. Isu tersebut ditepis mentah-mentah ahli kegempaan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, dr Daryono, memaparkan bukti ilmiah soal peristiwa tsunami di Aceh. Diketahui, tsunami di Aceh terjadi pada 26 Desember 2004 yang berawal dari gempa magnitudo (M) 9,3 yang terjadi di Samudra Hindia.

Dalam sebuah posting-an di media sosial (medsos), disebutkan gempa tersebut sebagai rekayasa senjata thermonuklir dari negara adidaya untuk tujuan tertentu. Di posting-an tersebut, disoroti soal perubahan-perubahan data magnitudo dan posisi episentrum gempa.

Daryono menepis isu konspirasi terkait tsunami di Aceh tersebut. Dia memaparkan soal analisis, proses, hingga dampak yang terjadi dari peristiwa yang diawali gempa besar tersebut.

"Bukti bahwa guncangan dahsyat di Aceh 2004 dipicu oleh gempa tektonik adalah munculnya serangkaian gempa susulan yang sangat banyak di sepanjang jalur Megathrust Andaman-Nicobar pasca-gempa utama," kata Daryono dalam keterangan, seperti dikutip dari Detikcom, Senin (22/3/2021).

"Jika tsunami dipicu ledakan nuklir maka tidak ada rekaman gempa susulan yang sangat banyak yang terjadi hingga lebih dari setahun kemudian. Jika tsunami dipicu oleh ledakan nuklir, maka tidak akan ada rekaman gempa susulan tersebut hingga periode yang sangat lama," tambahnya.

Berikut ini sejumlah fakta terkait peristiwa gempa besar dan tsunami yang terjadi di Aceh pada 2004:

Gempa bumi yang memicu tsunami tersebut terjadi pada 26 Desember 2004 pukul 07.58.53 WIB. Episentrum gempa berada di lepas pesisir barat Sumatera yang berada di antara Pulau Simeuleu dan daratan Sumatera. BMKG menyebut gempa berkekuatan magnitudo 9,1-9,3 SR itu setara dengan 1.500 kali bom atom Hiroshima.

Gempa bumi ini merupakan gempa bumi terbesar ketiga yang pernah tercatat di seismograf dan mempunyai durasi terlama sepanjang sejarah, sekitar 8 sampai 10 menit. Dan gempa bumi Aceh tersebut juga menimbulkan bencana tsunami dengan ketinggian mencapai hingga 30 meter. Akibat peristiwa ini, sekitar 200 ribu orang meninggal dunia di Indonesia. Warga di negara Sri Lanka hingga India pun ada yang menjadi korban jiwa.

Berikut penjelasan BMKG terkait gempa dan tsunami di Aceh pada 2004:

TSUNAMI ACEH BENAR-BENAR DIPICU OLEH GEMPA TEKTONIK, BUKAN LEDAKAN DIPICU NUKLIR

Tulisan ini adalah tanggapan mengenai berita viral pembahasan bahwa Tsunami Aceh tahun 2004 sebagai bagian dari konspirasi. Dalam postingan tersebut, disebut tsunami di Aceh sebagai rekayasa senjata thermonuklir negara adidaya untuk tujuan tertentu.

Tulisan ini mengungkap beberapa bukti ilmiah sangat kuat bahwa Tsunami Aceh memang dipicu oleh gempa tektonik, bukan dipicu oleh ledakan nuklir seperti isu yang beredar. Fakta-fakta tersebut adalah sebagai berikut, yaitu:

1. Data rekaman getaran tanah dalam seismogram menunjukkan adanya rekaman gelombang badan (body) berupa gelombang P (Pressure) yang tercatat tiba lebih awal dibandingkan gelombang S (Shear) yang datang berikutnya, yang selanjutnya diikuti oleh gelombang permukaan (surface). Munculnya fase-fase gelombang body ini menjadi bukti kuat bahwa gempa dan tsunami Aceh dipicu oleh aktivitas tektonik, bukan ledakan nuklir.

2. Munculnya gelombang S (Shear) yang kuat pada seismogram menunjukkan bahwa deformasi yang terjadi di Samudra Hindia sebelah barat Aceh adalah proses pergeseran (shearing) yang terjadi secara tiba-tiba pada kerak bumi akibat terjadinya patahan batuan dalam proses gempa tektonik, bukan akibat ledakan nuklir.

3. Deformasi dasar laut di Samudra Hindia sebelah barat Aceh pada 26 Desember 2004 adalah gempa tektonik yang dibuktikan dengan adanya variasi bentuk awal gelombang P berupa gerakan kompresi (naik) dan dilatasi (turun) pada seismogram yang tercatat di stasiun-stasiun seismik BMKG. Jika sumbernya ledakan nuklir, maka semua catatan seismogram di berbagai stasiun seismik diawali dengan gerakan naik (kompresi) pada gelombang P tersebut.

4. Gempa tektonik yang memicu Tsunami Aceh 2004 tidak terjadi dengan tiba-tiba, melainkan melalui proses terjadinya gempa pembuka (foreshocks) yang sudah muncul sejak tahun 2002, saat terjadi Gempa Simeulue 7,0 pada 2 November 2002. Sejak itu terjadilah serangkaian gempa kecil yang terus menerus terjadi yang merupakan gempa pendahuluan hingga puncaknya terjadi gempa berkekuatan 9,2 pada 26 Desember 2004 pukul 08.58.53 WIB. Fenomena gempa pendahuluan (foreshocks) yang sudah terjadi sejak 2 tahun sebelumnya ini merupakan bukti kuat bahwa Gempa Aceh 2004 tidak dipicu ledakan nuklir, tetapi gempa tektonik dengan tipe gempa pendahuluan (foreshocks) - gempa utama (mainshock) - gempa susulan (aftershocks).

5. Gempa Aceh 2004 membentuk jalur rekahan (rupture) di sepanjang zona subduksi (line source) dari sebelah barat Aceh di selatan hingga Kepulauan Andaman-Nicobar di utara sepanjang sekitar 1.500 km. Ini adalah bukti bahwa rekahan gempa tektonik terjadi di segmen Megathrust Aceh-Andaman. Rekahan panjang yang terbentuk di sepanjang jalur subduksi lempeng ini adalah bukti bahwa deformasi dasar laut yang terjadi bukan disebabkan oleh ledakan nuklir. Karena jika ledakan nuklir maka deformasi yang terbentuk secara terpusat di satu titik (point source) dan tidak berupa jalur (line source).

6. Bukti bahwa guncangan dahsyat di Aceh 2004 dipicu oleh gempa tektonik adalah munculnya serangkaian gempa susulan yang sangat banyak di sepanjang jalur Megathrust Andaman-Nicobar pasca gempa utama. Jika tsunami dipicu ledakan nuklir maka tidak ada rekaman gempa susulan yang sangat banyak yang terjadi hingga lebih dari setahun kemudian. Jika tsunami dipicu oleh ledakan nuklir, maka tidak akan ada rekaman gempa susulan tersebut hingga periode yang sangat lama.

7. Mengenai adanya perubahan data magnitudo dan posisi episentrum gempa Aceh 2004 adalah hal biasa dalam analisis penentuan parameter gempa. Perubahan parameter gempa terjadi karena adanya pemutakhiran data akibat bertambahnya data seismik yang masuk dan digunakan untuk dianalisis oleh petugas di lembaga monitoring gempa. Makin banyak data gempa yang digunakan maka hasil parameter gempa makin stabil dan akurat hingga diperoleh hasil final. Demikian juga adanya perubahan episenter Gempa Aceh 2006, disebabkan oleh adanya proses rekahan pada sumbar gempa yang bertahap dan terjadi dalam kawasan yang memanjang dari barat Aceh hingga Kepulauan Andaman-Nicobar. (**)

Sumber : Detikcom

GeBeTan - Ramadhan
Sponsored:
Loading...

Komentar

Loading...