Topik

BPIP Resmikan Perpustakaan dan Klinik Pancasila di Lapas se-Aceh

·
BPIP Resmikan Perpustakaan dan Klinik Pancasila di Lapas se-Aceh
Foto : Istimewa

JAKARTA - Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi meresmikan Perpustakaan dan Klinik Pancasila Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan Kemenkumham Se-Aceh. Kegiatan ini dilakukan terpusat di Lapas Kelas IIB Meulaboh, Aceh Barat.

Dalam kegiatan ini, Yudian menyampaikan bahwa membaca merupakan sebuah mukjizat bermanfaat sepanjang zaman. Ia menilai dengan jika Warga Binaan memanfaatkan perpustakaan, maka mereka akan memiliki jiwa baru plus dipandu keterampilan selama dibui.

"Waktu kuliah, saya menerbitkan 53 buku. Produk itu lahir justru saat saya kesulitan ekonomi. Jadi, sungguh masa depan lebih baik dari permulaan," ungkap Yudian dalam keterangan tertulis, seperti dikutip dari detikcom.

Yudian menambahkan penjara bukanlah akhir perjalanan hidup. Ia pun mencontohkan kisah Presiden pertama Soekarno. Penjara Banceuy, Bandung, sel Lapas Sukamiskin, hingga beberapa tempat pengasingan menurutnya justru membuat Sang Proklamator tambah rajin membaca buku dan Al-Qur'an.

"Dengan berbagai alasan, banyak tokoh di penjara sejak dahulu kala," ujarnya.

Ia pun mengingatkan agar para Warga Binaan dapat saling gotong royong selama di lapas atau rutan. Misalnya, jika ada yang sering dibesuk atau dikunjungi keluarga mereka bisa saling membagi kepada Warga Binaan lain yang tidak pernah atau jarang dikunjungi.

Menurut Yudian, hidup saling membantu dan saling meringankan, memanfaatkan waktu dengan kegiatan keterampilan, serta berinovasi karya itu merupakan wujud kegiatan Klinik Pancasila.

Pada kesempatan ini, Yudian juga menceritakan keberhasilan orang-orang Aceh, antara lain tokoh guru besar yang dijadikan nama gedung Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yakni gedung Prof. Dr. Tgk. M. Hasbi Ash Shiddieqy, nama Gedung Pascasarjana Prof. Dr. H. Nourouzzaman Shiddiqi, M.A., juga yang ikut turun aktif menggagas Ide rumusan Pancasila disusun oleh asli orang Aceh yakni Dr. Mr. H. Muhammad Hasan.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Aceh, Meurah Budiman menjelaskan ada 31 UPT Pemasyarakatan dan 3.600 Warga Binaan di Bumi Teuku Umar. Menurutnya, mayoritas perkara dari para warga binaan ialah narkoba, yakni ganja dan sabu-sabu.

"Lapas Meulaboh bagus, dari security dan bangunan, pasca tsunami. Bagai Bintang Kejora dalam penanganan kasus narkoba. Secara umum, Lapas/Rutan se-Aceh sangat kondusif," kata Meurah.

Meurah pun mengajak peran serta semua pihak dalam membina warga binaan agar tak hanya mengandalkan jajaran PAS atau Kemenkumham. "Saya mengapresiasi program Perpustakaan dan Klinik Pancasila. Untuk peningkatan kualitas SDM yang selama ini rutinitas pengamanan dan pembinaan," bebernya.

Sementara itu, Bupati Aceh Barat Ramli MS yang hadir pada kegiatan yang sama juga secara khusus menyebut Perpustakaan Pancasila sebagai metode luar biasa untuk menyelesaikan kompleksitas masalah di Lapas. "Untuk menghilangkan kejenuhan, kemalasan, balas dendam. Perpustakaan bisa mengubah pola pikir orang dalam Lapas," ucapnya.

Politisi Partai Aceh ini mengingatkan tidak selamanya Warga Binaan itu salah sebab menurutnya masalah moralitas tergantung pada banyak hal. "Ke depan, mari kita pikirkan lapangan kerja untuk Warga Binaan," tukas Ramli.

Sebagai informasi, acara yang digelar secara hybrid ini dihadiri oleh Plt. Sestama BPIP Karjono, Deputi Hubungan Kerjasama, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan Prakoso, Staf khusus Dewan Pengarah Benny Susetyo, Kepala Divisi Pemasyarakatan, unsur Forkominda Aceh Barat dan para Kepala UPT Jajaran Pemasyarakatan Se-Aceh.

Setelah penandatanganan prasasti yang menandai peresmian dilakukan, Yudian dan rombongan sempat masuk meninjau langsung Lapas Meulaboh. Diketahui, para rombongan tampak terenyuh melihat Warga Binaan yang menyambut di dalam aula masjid dengan lantunan lagu religius. []

Sponsored:
Loading...

Komentar

Loading...