Topik

Menikmati Indahnya "Sophie Rickmers Wreck" Di Bawah Laut Pulau Weh

·
Menikmati Indahnya "Sophie Rickmers Wreck" Di Bawah Laut Pulau Weh
Menyelam untuk mengunjungi Sophie Rickmers

Menikmati Indahnya "Sophie Rickmers Wreck" Di Bawah Laut Pulau Weh

Oleh : Mastika Wardhani SP. MM

Menyelam untuk mengunjungi Sophie Rickmers sudah menjadi impian saya sejak pertama kali saya menginjakkan kaki ke Pulau Weh. Ketika itu saya belum memiliki daya upaya untuk menyapa dan melihat kemegahannya dikarenakan belum memiliki lisensi menyelam terlebih ada beberapa syarat khusus yang harus saya penuhi. Sophie terus mengendap dalam imajinasi saya dimanapun saya berkelana. Ia seperti memanggil-manggil banal membikin kepala gatal, berbisik terus hingga menggerus.

Saya tidak membikin daftar pencapaian apapun dalam menjalani tahun 2018, mengingat banyak hal yang berterbangan dikepala tanpa menggenggamnya ditangan kala itu membikin saya kesal akan diri sendiri. Menempatkan harapan, bahkan ke diri sendiripun terasa begitu emosional, tapi saya sadar bahwa kita bisa belajar menerima dengan membangun, serta memaafkan diri sendiri terlebih orang lain. Selasa itu, pertengahan Januari 2018, bersanding dengan Sophie di kedalaman 50 m dibawah permukaan laut merupakan sebuah pencapaian bagi saya.

Sophie Rickmers diproduksi oleh perusahaan The Rickmers Werft di Bremerhaven, kota bagian barat Hamburg pada tahun 1917-1920. Kapal yang memiliki panjang sekitar 134 m, lebar 17.5 m, dan tinggi 8 meter dibuat dengan menggunakan bahan material terbaik pada masa itu. Sophie digunakan untuk mengangkut barang-barang berharga seperti timah dan piring keramik dengan ukuran besar.

Cerita mengenai Sophie ini saya dapatkan dari Abang Isfan, sahabat karib saya yang mengelola sebuah dive centre bernama Rubiah Tirta Divers. Kami berdialektika di tepi pantai Iboih dibawah pohon besar yang rindang sambil menikmati kopi Sanger khas Aceh. Ia mengatakan, melalui catatan pelaut Jerman yang bernama Herald Wentzel yang dimulai pada 7 September 1927, Sophie berlabuh di Sabang sejak 29 Agustus 1939 dalam kondisi rusak parah.

Kapal yang dinahkodai oleh Kapten Helms ini sempat dikejar-kejar oleh kapal Inggris yang menguasai Malaysia. Sementara Pulau Weh pada saat itu berada dalam jajahan Belanda. Sikap Jerman yang menginvansi Polandia membuatnya dimusuhi oleh Belanda dan Inggris. Akibatnya, kapal Sophie yang sedang di perbaiki di Pulau Weh menjadi incaran Inggris dan Belanda. Para awak kapal kemudian memilih menenggelamkan kapal Sophie daripada menyerahkannya ke Hindia Belanda pada 10 Mei 1940.

Sophie telah beristirahat selama tujuh puluh tujuh tahun ketika saya hendak menyapanya. Persiapan yang saya lalukan diantaranya dengan menjaga kondisi badan tetap prima, tidak mengonsumsi minuman beralkohol, tidak merokok, tidur yang cukup, dan melakukan brief review mengenai decompression dive dengan instruktur diving saya yakni Irwandy.

Kami memutuskan untuk turun bertiga, bersama satu teman lagi yang seorang Rescue Diver bernama Akmal. Pagi hari kami berkumpul mempersiapkan dive equipment serta saling memeriksa satu sama lain. Decompression dive membutuhkan pengetahuan yang mumpuni. Menjelang siang, kami membawa dive gear masing-masing ke speed boat, lalu boatman kami yang bernama Fitra dengan kemampuan mengendarai speed boat yang tidak diragukan lagi membawa kami ke Teluk Pria Laot.

Cuaca sangat mendukung pada waktu itu, Dive site ini ditandai dengan adanya 3 pelampung disana yang menunjukkan bagian depan, tengah, dan belakang Sophie. Kami bertiga melakukan backroll lalu descending dengan mengikuti tali yang menuntun kami ke Sophie.
Ketika turun hanya ada tali yang diselimuti birunya laut, tidak ada coral, batu ataupun referensi lainnya. Ketika sampai di kedalaman 27 m, telinga saya agak sulit untuk equalize, 2 dive buddy saya bersabar menunggu sekitar 1 menit, hal ini penting untuk diperhatikan, keselamatan adalah yang utama, jika satu saja teman mengalami gangguan, maka penyelaman tersebut sebaiknya dihentikan. Andy selalu berada di samping saya untuk memastikan saya dalam kondisi baik-baik saja.

Ketika saya hendak melakukan descending kembali, telinga sudah membaik dan kami melanjutkan turun. Sophie telah menunggu, ia telah menyambut ketika saya telah sampai di kedalaman 35 m. Saya turun dibagian depan deck dan dive computer menunjukkan saya telah berada di kedalaman 45 m di bawah permukaan laut. Sophie begitu cantik, ia berdiri dengan sangat anggun, memukau dan penuh misteri. Ia sangat besar, seketika saya langsung teringat akan Titanic. Ia begitu eksotis untuk dijamah. Saya berkeliling di bagian depannya lalu menuju ke bagian tengah. Andy bertanya apakah saya terkena narkosis, saya menjawab dengan memberinya sign “OK”.

Saya sadar saya hanya punya waktu 15 menit untuk bercengkrama dengan Sophie. Saya menatap setiap bagian sisinya dengan penuh takjub, berkeliling melewati patahan tiangnya yang megah, ketika sampai di bagian tengah Andy memberi sign untuk ascending mengikuti tali bagian tengah Sophie. Sesampai di tali, saya melihat Sophie ambil naik pelan-pelan, istirahatlah dengan tenang Sophie, terima kasih sudah mengundang saya untuk menikmati keindahan lekukmu, mencicipi misterimu yang hanya bisa dirasa ketika bertemu.

Deco yang harus saya selesaikan adalah 20 menit, ini merupakan safety stop yang paling membosankan yang pernah saya alami selama beberapa kali penyelaman, pasalnya tak ada yang menghibur kecuali tali yang ada di depan mata dan melihat 2 dive buddy. Setelah menyelesaikan deco, kami naik ke permukaan dan menyapa Fitra yang telah menunggu selama kurang lebih 1 jam, bisa kalian bayangkan bukan, betapa menjadi seorang boatman diperlukan kesabaran yang luar biasa. Fitra mencintai pekerjaannya, baginya, menunggu adalah bagian yang juga ia sukai.

Sesampai di speedboat kami melakukan toast bertiga. Yeahhhhh!!! We made it, terima kasih Tuhan atas adrenaline adventure yang kami lalui dengan lancar ini. Andy mengatakan, tidak cukup hanya dengan satu kali penyelaman untuk bercengkrama melihat semua bagian Sophie, kurang lebih, dibutuhkan sekitar 4 atau 5 kali penyelaman. Tapi kau tahu, kita tidak boleh melakukan decompression dive dengan jarak waktu yang berdekatan, khawatir tubuh akan mengalami kelebihan Nitrogen. Saya mengatakan kepada Andy, “bucketlist checked and I’ll go back again someday”.

Penulis Adalah, Alumnus Magister Manajemen IPB dan berasal dari Aceh Tamiang.


 

Sponsored:
Loading...

Komentar

Loading...