Topik

Meretas Jalan Sejahtera di Aceh Tamiang

·
Meretas Jalan Sejahtera di Aceh Tamiang
Tim Kemensos saat meninjau pelaksanaan pembangunan rehab rumah di Kampung Sukajadi. Foto : Ist

Oleh: Benny Setia Nugraha, Praktisi sosial, Dosen STKS Bandung.

Perhatian publik terhadap upaya penanganan kemiskinan begitu tinggi. Berbagai langkah dan cara ditempuh agar kemiskinan turun dan warga miskin menjadi berdaya. Kita patut berbangga bahwa kemiskinan secara statistik turun satu digit menjadi 9,3%. Ini tidak mudah diraih, karena banyak faktor yang turut menjadi parameter dalam penurunannya.

Bagian yang dianggap berpengaruh pada penurunan angka tersebut adalah komplimentari program yang diintegrasikan, yakni PKH, BPNT, dan program penyerta lainnya dalam bentuk rehabilitasi sosial rumah tidak layak huni, kelompok usaha bersama, kredit usaha kecil, usaha ekonomis produktif. Program ini dapat sokongan kuat antar kementerian dengan ciri pendekatan dan basis data yang dianggap valid dan terverifikasi secara baik.

Kementerian Sosial (Kemensos) dengan tugas menyelesaikan berbagai permasalahan sosial, turut andil besar dalam upaya percepatan penurunan angka kemiskinan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh B2P3KS Yogyakarta menunjukkan keefektifan dari PKH dan BPNT, dilihat dari ketepatan sasaran, jumlah, manfaat, administrasi, waktu, kualitas.

Rata rata diantas 80% ketepatannya. Program-program tersebut lebih mendalam dalam pemanfaatannya yaitu pada penumbuhan semangat keluar dari kemiskinan, dan daya juang serta daya tahan dalam setiap upaya pemanfaatan berbagai bantuan. Kemensos mengintegrasikan pengetasan kemiskinan tidak hanya secara individual, tetapi juga dilakukan secara komunitas, satu diantaranya adalah rehabilitasi sosial rumah tidak layak huni. Rumah jadi salah satu parameter dalam mengentaskan kemiskinan.

Semangat dalam kegiatan ini adalah bukan sekedar rumah yang layak, cukup ruang, cukup ventilasi, tetapi juga semangat gotong royong bersama sama merehabilitasi rumah jadi layak huni. Dalam satu tahun anggaran, kemensos memberikan 150 rumah per kabupaten, yang menawarkan diri untuk siap menerima program ini. Langkah ini akan dapat dengan segera mengurangi jumlah rumah tidak layak huni yang menurut cacatan BPS ada sekitar 4,2 juta.

Sebuah contoh diperoleh di Kabupaten Aceh Tamiang, yang pada tahun 2019 ini mendapat kesempatan merehabilitasi 150 rumah dari kemensos dengan stimulan per rumah 15 juta. Hasil pemantauan lapangan, rumah sudah terbangun dengan baik dengan pertimbangan ciri khas budaya dan bagian bagian yang perlu direhabilitasi.

Hal yang menarik dari cerita ini adalah semangat gotong royong dalam membangun rumah, semangat rembug sosial dalam warga, dan hebatnya kesediaan mengeluarkan uang lebih agar rumah terbangun dengan baik. Sebagaimana terlihat di Kampung Sukajadi kecamatan Karang Baru, rumah terbangun dengan baik, warga penerima program terbantu memiliki rumah sehat yang cukup ruang, cukup ventilasi, dan cukup sanitasi.

Sebelumnya rumah mereka tanpa kamar mandi ataupun MCK. Secara umum tidak layak huni. Uang 15 juta termanfaatkan dengan baik, dikoordinir oleh warga penerima program yang dituakan dan dijadikan sebagai pimpinan. Mereka merasakan senang dengan bantuan ini, mereka dapat rumah layak huni, saling bantu sesama warga sekitar dengan kearifan lokalnya. Mereka juga menjadi termotivasi dalam menyelesaikan rumah dengan tambahan biaya sendiri.

Ini memang spirit yang diharapkan oleh kemensos, bahwa kemiskinan hanya bisa bisa diatasi kalau ada kemauan dari orang miskin itu sendiri. Mereka menjadi bagian dalam upaya 'meretas jalan sejahtera'. Mereka ingin sejahtera, tanpa kemiskinan, diisi oleh sumber daya yang mumpuni untuk menuju Indonesia Sejahtera. (***)

Sponsored:
Loading...

Komentar

Loading...