Topik

Pelayanan RSUD Aceh Tamiang Buruk, Keluarga Pasien Minta Bupati Copot Direktur

·
Pelayanan RSUD Aceh Tamiang Buruk, Keluarga Pasien Minta Bupati Copot Direktur
Hayatuddin, aktivis GERAK Aceh, yang juga keluarga almarhum Ayyub. Foto : Ist

ACEH TAMIANG - Hayatuddin, salah satu keluarga pasien yang bernama Aiyub, yang meninggal dunia di RSUD Aceh Tamiang, menilai pelayanan RSUD milik pemda Aceh Tamiang sangat buruk karena penanganan terhadap pamannya tidak dilakukan sesuai dengan penyakit yang diderita pasien.

Pasien almarhum Aiyub diketahui menderita sakit sesak, kemudian masuk RSUD Aceh Tamiang pada 19 Oktober 2020 namun menurut keluarga penanganannya dilakukan diruang isolasi (Pinere), yang merupakan ruang perawatan khusus penyakit Covid-19. 

Padahal hasil swabnya negatif, akibatnya Kepala SMP Negeri 2 Kejuruan Muda tidak tertangani sakit sesaknya sampai tiga hari mengalami sesak hingga akhirnya meninggal dunia. "Paman saya, Almarhun Ayyub, tidak mendapatkan pelayanan yang diharapkan dari rumah sakit daerah itu,” kata Hayatuddin, aktivis GERAK Aceh, yang juga keponakan almarhum Aiyub kepada Kabar Tamiang, Selasa (27/10/2020).

Dijelaskan Udin, panggilan akrab Hayatuddin, pamannya almarhum Aiyub diketahui menderita sakit sesak, kemudian masuk RSUD Aceh Tamiang pada 19 Oktober 2020 dan dilakukan rapid test pada 20 Oktober hasilnya negatif, selanjutnya dilakukan swab. “Setelah dilakukan swab, almarhum langsung dipindahkan keruangan pinire yang merupakan ruangan khusus penanganan pasien Covid 19,” ujarnya.

Selanjutnya, pada 23 Oktober keluarga pasien mendapat informasi dari Provinsi Aceh, bahwa pasien atas nama Ayyub hasil swabnya negatif.

Informasi itu disampaikan kepada pihak RSUD Aceh Tamiang agar mempercepat proses penanganan dan meminta manajemen dan dokter memindahkan pasien tidak lagi diruangan Covid-19 sehingga dapat  dilakukan penanganan medis terhadap penyakit sesak yang diderita pasien.

“Yang sangat disayangkan informasi tersebut tidak direspon cepat pihak RSUD Aceh Tamiang, seharusnya pihak RSUD menanggapi dengan melakukan kordinasi cepat dengan tim Satgas Covid Aceh Tamiang ke Provinsi Aceh, apakah benar informasi tersebut atau bukan," ujarnya.

"Seharusnya sekecil apapun informasi harus direspon dan pihak rumah sakit harus lebih cepat mengetahui hasil swab sehingga bisa mengambil tindakan setiap pasien yang dirawat.Pasien tidak ditangani sesuai dengan penyakit sesak yang diderita almarhum,” tambahnya.

Udin menceritakan, kala itu, keluarga almarhum sempat emosi. Pasalnya pasien tidak ditangani sesuai dengan penyakit yang diderita yaitu sesak nafas. “Setelah ada keluarga yang emosi dan mengamuk, baru ada petugas RSUD yang bergerak memindahkan pasien ke ruangan ICCU pada siang hari,” jelasnya.

Namun, karena pasien sudah sangat kritis, bebernya, dokter menyarankan kepada keluarga untuk dibius dan dimasukan selang ke paru-paru dan akan dirujuk ke Medan. “Tak lama setelah dipasang selang, paman kami menghembuskan nafas terakhir tepatnya pada Sabtu 24 Oktober 2020 sekitar pukul 05:20 WIB,” katanya.

Megetahui kondisi pelayan RSUD Aceh Tamiang seperti itu, Hayatuddin menilai sangat wajar publik tidak percaya dengan adanya Covid-19. Karena penanganan covid tidak sesuai dengan prokes dan terkesan azas manfaat. “Kalau begitu pelayanannya akan banyak pasien yang bukan Covid-19, meninggal secara pelan-pelan,” tulisnya.

Menyikapi buruknya pelayanan RSUD Aceh Tamiang, keluarga pasien Hayatuddin meminta Bupati Aceh Tamiang, H.Mursil mencopot Direktur RSUD Aceh Tamiang karena dinilai lamban dalam menangani pasien yang sudah kritis dan tidak ada upaya tindakan cepat untuk mengambil kebijakan terhadap pasien yang perlu dilakukan pertolongan cepat.

Selain itu, ia juga meminta dokter yang menangani pasien almarhum Aiyub juga dipecat dari jabatannya, karena dinilai tidak profesional dalam menindaklanjuti pasien yang sedang kritis dan terkesan membiarkan sesak hingga tiga hari lamanya di ruangan Covid-19 tampa ada upaya lain yang dilakukan, seharusnya dokter lebih peka terhadap kondisi pasien yang perlu penanganan serius.

“Kita juga meminta Polda Aceh dan BPK RI mengaudit penggunaan dana Covid di Kabupaten Aceh Tamiang, jangan kemudian hasil swab negatif dimainkan menjadi positif,” ujarnya.

Udin menduga adanya unsur kerahasiaan dalam penganan pasien Covid -19 di Aceh Tamiang dan harusnya hasil swab bisa cepat disampaikan kepublik sehingga tidak ada saling curiga dalam wabah Covid-19 ini, jangan jadikan Covid ini momok yang menakutkan bagi keluarga pasien dan masyarakat sehingga penting untuk cepat disampaikan hasil swabnya.

Sementara itu, Direktur RSUD Aceh Tamiang, T.Dedy Syah yang dikonfirmasi Kabar Tamiang via seluler terkait protes keluarga pasien almarhum Ayub, mengatakan, pihaknya belum dapat menyimpulkan almarhum negatif Covid-19 sebelum menerima hasil swab kedua.

“Hasil swab kedua sampai saat ini belum saya terima dan hasil swab pertama itu pun saya peroleh dari keluarga pasien,” ujarnya.

Menurutnya, ketika itu pasien tidak dipindahkan keruangan lain karena belum menerima hasil autentik hasil swabnya, dikhawatirkan bisa berdampak ke pasien lainnya dan jika di pindahkan ke ruangan lain, pelayanan terhadap pasien akan menggunakan APD. “Tetapi karena sudah ribut-ribut dan kebijakan saya sendiri akhirnya memindahkan pasien keruangan perawatan lainnya,” jelas Dedy Syah

“Pemindahan pasien Aiyub ini sebenarnya jabatan saya pertaruhkan, karena belum ada hasil autentik yang belum memungkinkan pasien di pindahkan dari ruang penanganan Covid-19,” ujar Dedy lagi

Menurutnya, untuk diketahui penanganan pasien Aiyub sudah dilaksanakan sesuai bahkan ditangani tim serta tiga dokter, yakni dokter konsultan Covid-19, dokter paru dan dokter penyakit dalam.

Terkait keluarga mengetahui hasil swab menurut Direktur RSUD Tamiang ini, sebenarnya hasil swab tidak boleh diberikan kepada keluarga, kalau kepada pasien langsung boleh, termasuk boleh diberikan kepada kepolisian guna proses penanganan hukum, demikian penjelasan Direktur RSUD Aceh Tamiang.

Sponsored:
Loading...

Komentar

Loading...