Topik

Rapat Paripurna I RAPBK 2021

Pemkab Aceh Tamiang Defisit Rp 12 Miliar

·
Pemkab Aceh Tamiang Defisit Rp 12 Miliar
Wakil Bupati Aceh Tamiang, H.T. Insyafuddin, ST menyampaikan Rancangan Qanun RAPBK tahun 2021. Foto : Ist

ACEH TAMIANG - Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tamiang mengelar rapat Paripurna ke-1, dengan agenda penyampaian Rancangan Qanun APBK Tahun 2021, di ruang sidang utama, Senin (16/11/2020).

Paripurna pembukaan ini dipimpin Ketua DPRK Aceh Tamiang, Suprianto, dan dihadiri Wakil Ketua I, Fadlon, Wakil Ketua II, Muhammad Nur dan sebagian anggota DPRK Aceh Tamiang. Sedangkan dari pejabat eksekutif hadir Wakil Bupati Aceh Tamiang, H.T. Insyafuddin, kepala SKPK dan unsur Forkopimda.

Wakil Bupati Aceh Tamiang H.T Insyafuddin yang membacakan amanah Bupati Mursil menjelaskan pengajuan Raqan APBK 2021 sebesar Rp 1.226.871.912.021. Nilai pendapatan ini diketahui lebih kecil dibanding anggaran belanja yang mencapai Rp 1.238.871.912.021, sehingga terhadi defisit Rp 12 miliar.

Dalam kesempatan itu Insyafuddin menjelaskan pengajuan Raqan APBK 2021 ini sudah terlebih dahulu dibahas bersama tim anggaran Pemkab Aceh Tamiang bersama DPRK Aceh Tamiang pada 6 Oktober 2020.

Dia memastikan seluruh penyusunan memedomani rencana kerja pemerintah daerah 2021 yang merupakan tahun keempat RPJMD Aceh Tamiag 2018-2022 sekaligus RPJP 2005-2025. “Tahun depan berdasarkan rencana kerja pemerintah daerah, kita menitik- beratkan penigkatan ekonomi kerakyatan,” kata Insyafuddin.

Wakil Bupati Aceh Tamiang saat menyampaikan pidato dalam RAPBK 2021. Foto : Ist

Rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRK Aceh Tamiang Suprianto ini dilanjutkan Selasa (17/11/2020) dengan agenda pandangan umum dewan. “Kita lanjutkan esok hari untuk mendengarkan pandangan umum dewan,” ucap Suprianto.

Terpisah, Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Aceh Tamiang, Yusriati menjelaskan potensi defisit Rp 12 miliar tersebut masih dalam batas toleransi.

Hal ini disebabkan anggaran program yang diusulkan sebelumnya ternyata membutuhkan biaya lebih besar.
Secara umum kondisi keuangan Aceh Tamiang pada 2021 masih balance (seimbang). “Itukan istilah keuangan, memang harus kita sebutkan defisit. Tapi sebenarnya tidak seperti itu,” kata Yusriati.

Optimisme ini dikuatkan keterangan Kabid Anggaran BPKD Aceh Tamiang Muhammad Ridwan yang menyebutkan potensi defisit ini akan tertutupi dengan anggaran Silpa dan penyertaan modal di bank. “Artinya kekurangan Rp 12 miliar ini akan tertutupi dengan Silpa atau penyertaan modal di bank. Sudah kembali balance (seimbang),” ujarnya. []

Sponsored:
Loading...

Komentar

Loading...