Topik

Penguatan UMKM sebagai Antisipasi Dampak Covid-19

·
Penguatan UMKM sebagai Antisipasi Dampak Covid-19
Gambar Ilustrasi. Foto : Ist

Oleh: Anwar Maulana Sidik, Mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Jurusan Hubungan Internasional.

Virus Corona atau Covid-19 tidak hanya mengancam kesehatan manusia, melainkan juga dapat mengancam pada pertumbuhan ekonomi global. Menurut International Monetary Fund (IMF), Covid-19 akan berdampak atas melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia hingga di bawah 2,9% pada tahun 2020.

Dengan terjadinya perlambatan terhadap ekonomi global, tentunya akan berdampak pula pada melambatnya perekonomian Indonesia. Seperti hal-nya, dampak dari Covid-19 yang sudah mulai terasa pada sektor perekonomian Indonesia, seperti terjadi anjlok-nya perdagangan saham, penurunan ekspor dan impor bagi Indonesia, serta yang paling menghawatirkan ialah melemahnya nilai mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.

Adanya dampak perekonomian yang mulai terasa akibat Covid-19 yang terus menyerang Indonesia, tentunya diperlukan respon yang tepat serta memerlukan adanya solusi atas permasalahan tersebut. Salah satu solusi yang dapat dilakukan dalam menghadapi ancaman tersebut ialah dengan cara memaksimalkan potensi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Tidak dapat dipungkiri, UMKM sangatlah kuat dalam menghadapi krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia. Seperti halnya krisis yang pernah dilami oleh Indonesia, yakni krisis moneter yang terjadi pada tahun 1997-1998 dan juga krisis keuangan pada tahun 2008. Pada masa krisis ekonomi tersebut, UMKM tetap mampu bertahan dalam situasi krisis tersebut, bahkan yang paling mengejutkan pertumbuhan UMKM semakin banyak jumlahnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, jumlah UMKM pasca krisis moneter pada tahun 1997-1998 tidak berkurang jumlah-nya, melainkan terus bertambah hingga mampu menyerap 85 juta hingga dengan 107 juta tenaga kerja sampai tahun 2012.

Menurut Hernita Sahban dalam bukunya "Menembus Badai UMKM", menjelaskan bahwasanya UMKM merupakan salah satu solusi dalam menghadapi perekonomian yang tidak stabil. Hal ini dikarenakan UMKM kerap kali memanfaatkan sumber daya lokal, baik sumber daya alam maupun manusia.

Dengan adanya pemanfaatan sumber daya lokal tentunya dapat meminimalisir biaya pengimporan dan memaksimalkan pengeksporan. Selain itu, UMKM juga mampu mengurangi angka pengangguran yang ada di Indonesia, karena UMKM menciptakan lapangan kerja sendiri dengan cara membuka sebuah usaha yang menjadikan UMKM mampu meminimalisirkan angka pengangguran di Indonesia.

Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri UMKM kerap kali memiliki kendala dalam praktiknya dan perlu diatasi agar UMKM tidak semakin terpuruk, khususnya pada situasi saat ini. Adapun masalah yang kerap dirasakan para UMKM, yakni seperti terbatasnya UMKM dalam mengakses permodalan, belum mampunya UMKM memaksimalkan teknologi dengan baik, dan rendahnya minat masyarakat terhadap produk UMKM.

Permasalahan-permasalahan tersebut tentunya dapat diatasi dengan berbagai cara agar para UMKM juga dapat bertahan pada masa sulit ini, yaitu dengan cara:

Pertama, permasalahan terbatasnya UMKM dalam mengakses modal dapat diatasi dengan adanya penyediaan modal dan akses terhadap sumber ataupun lembaga keuangan, dengan diberinya kemudahan dalam mengurus administrasi untuk mendapatkan modal dari lembaga keuangan tanpa berbelit-belit, serta melakukan efektifitas dan efisiensi terhadap program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang telah disediakan oleh pemerintah sebelumnya dengan diberikan keringanan dalam masa pembayarannya. Ataupun dapat dilakukan dengan adanya jalinan kemitraan yang saling menguntungkan antar pelaku usaha (UMKM, Usaha Besar dan BUMN).

Kedua, permasalahan pada belum mampunya para UMKM dalam memaksimalkan teknologi dengan baik, dapat dilakukan pembinaan terhadap UMKM yang belum memanfaatkan teknologi, seperti pemanfaatan teknologi digital yang dapat memperluas jangkauan pasar bagi UMKM. Terlebih dalam situasi seperti ini, tentunya pemanfaatan teknologi bagi UMKM sangat berpengaruh secara signifikan untuk agar tetap aman dalam menjalankan bisnisnya.

Ketiga, permasalahan terhadap rendahnya minat masyarakat terhadap produk UMKM, dapat dilakukan dengan cara yang dilakukan oleh Presiden Habibie dalam bukunya "Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi", yakni dengan adanya  arahan dari pemerintah serta partisipasi dari para UMKM untuk mendidik para anggota dan konsumennya agar dapat ikut mengembangkan budaya belajar, budaya bekerja dan budaya membangun yang bertujuan untuk dapat mendorong para konsumen dalam mencintai produk dalam negeri, karena para konsumen merasa ikut berpartisipasi pada seluruh proses produksi tersebut.

Sehingga hal tersebut, diharapkan dapat menggenjot minat masyarakat Indonesia untuk dapat terus mencintai berbagai produk-produk Indonesia. Dengan demikian, penguatan terhadap UMKM perlu dilakukan untuk dapat mempertahankan perekonomian di Indonesia.

Tentunya dalam memperkuat UMKM, diperlukan adanya dukungan baik dari pemerintah maupun masyarakat untuk terus mendukung UMKM. Dengan adanya dukungan tersebut, bukan tidak mungkin UMKM akan kembali menjadi kunci dalam mendobrak perekonomian di Indonesia, baik pada masa tragedi Covid-19 saat ini, maupun pada masa pemulihan yang ditimbulkan dari dampak penyebaran Covid-19. (***)

Sponsored:
Loading...

Komentar

Loading...